Jenis Media Pembudidayaan Lobster Air Tawar

Pembudidayaan Lobster Air Tawar

Ketika ingin bergelut di dunia pembudidayaan lobster air tawar seharusnya mengetahui jenis media apa saja yang baik untuk digunakan sebelum memulai bisnis lobster air tawar antara lain sebagai berikut:

A. Kolam Tanah

Budi daya Lobster Air Tawar (LAT) pada umumnya memerlukan lahan yang cukup luas untuk dapat memberi-kan basil yang memadai bagi pembudidaya. Bagi masyarakat di pedesaan atau daerahyanglahanyamasih luas, pembudidayaan LAT di kolam tanah sehingga jumlah lobster yang dibudidayakan akan semakin banyak. Adapun, masyarakat perkotaan yang pada umumnya memiliki lahan yang tidak terlalu luas, tetapi ingin membudidayakan lobster air tawar, mereka memanfaatkan akuarium.

KaJau dipelajari dengan saksama, sebenamya lobster ini merupakan hewan yang mudah beradaptasi sehingga tempat pembudidayaan tidak hanya sebatas pada kolam tanah, tetapi masih ada media lain. Syarat utama yang hams I diperhatikan adalah tempat untuk pembudidayaan lobster ini hams dekat dengan sumber air. Apa pun tempat/wadah yang digunakan tidak menjadi masalah karena pada habitat aslinya lobster tersebut hidup di sungai, rawa-ra wa serta danau.

B. Akuarium

Di Indonesia, budi daya lobster air tawar banyak dilakukan dalam sekala perumahan terutama pada pembenihan. Pada bagian ini, dijelaskan budi daya pembenihan lobster air tawar yang umumnya dilakukan  di Indonesia.

Alasan menggunakan akuarium untuk pembudidayaan lobster adalah agar keadaan lobster bisa dipantau dan juga memudahkan petemak untuk menghemat tempat karena jika memakai akuarium, kita dapat menyusun menjadi beberapa tingkat sehingga tidak memerlukan  banyak lahan/tempat. Akuarium terbuat dari kaca sehingga memudahkan kita dalam memantau perkembangan lobster  tersebut, mulai dari lobster yang bertelur, pengeraman hingga penetasannya.

Pembudidayaan Lobster Air Tawar

Akuarium pemijahan

Akuarium yang digunakan dalam budi daya lobster air tawar tersebut dibagi dalam beberapa kebutuhan berikut.

1. Akuarium pemijahan

Akuarium pemijahan dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan atau yang bisanya menggunakan ukuran secara umum adalah ukuran 80cmx 40cmx40cm (PxLxT), atau lOOcm* 50cm*40cm. Luas dari ruang akuarium ini sangat

bergantung pada ukuran dan jumlah indukan yang ada di dalamnya. Ruangan yg terlalu padat juga dapat membuat lobster menjadi sangat rentan terhadap kaniblisme dan juga perkelahian sesama lobster.

2.    Akuarium pengeraman

Masa pengeraman telur oleh induk lobster mem-butuhkan waktu sekitar 30-40 hari. Dalam mengoptimalkan lahan yang sangat sempit, akuarium pengeraman sekat dengan luas sekitar 15cm. Hal ini akan memudahkan kita untuk selalu memantau telur yang sudah mendekati masa penetasan.

3.    Akuarium penetasan

Masa penetasan burayak ini terjadi antara 10-12 hari pada masa penetasan ini burayak telah terlihat lengkap dengan mata, kaki, dan antenna seperti layaknya lobster dewasa. Sebagian dari burayak tersebut sudah mulai melepaskan diri dari indukannya.

Burayak yang lepas dari indukan ini bertahap hingga semua burayak tersebut sudah benar-benar lepas dari induknya. Akuarium penetasan ini biasanya juga digunakan untuk membesarkan burayak hingga umur 2-3 minggu. Pada umu 2-3 minggu, burayak tersebut sudah dapat dimasukkan ke dalam kolam pembesaran benih. Jika ingin menggunakan akuarium, untuk pembesaran benih sebaiknya burayak tersebut dijarangkan kepadatannya dengan mengatur jumlah dengan cara disekat atau dengan menggunakan akuarium yang barn.

4. Akuarium karantina

Akuarium karantina juga sangat diperlukan untuk menjaga lobster yang akan berganti kulit atau disebut molting. Lobster yg sdh terlihat tanda-tanda ingin molting seb4iknya dipindahkan ke akuarium karantina tersebut sehingga ketika molting, lobster ini bisa aman dari para kanibalisme ses4ma lobster. Akuarium ini juga bisa digunakan untuk induk lobster yang sudah selesai menetaskan burayaknya karena pd umumnya lobster y4ng habis menetas memasuki masa pengantian kulit.

Lobster biasanya akan membutuhkan waktu ant4ra 1-2 hari di karantina jika mereka sedang dalam masa pembentukan cangkang dari lunak menjadi sangat keras. Lobster yang masih muda juga membutuhkan waktu yang begitu singkat untuk pembentukan cangkang.

Boks kontainer yang umum digunakan untufc penyimpanan barang, juga dapat digunakan sebagai me* dia budi daya lobster air tawar.

6. Kolam semen

Kolam semen merupakan media yang paling banyak  digunakan dalam budi daya lobster air tawar ini. Pada Umumnya pembuatan kolam semen digunakan untuk pemijahan massal dan  pembesaran burayak. Selain untuk pemijahan dan  pembesaran burayak, kolam semen juga dapat digunakan  untuk pengeraman dan penetasan, namun hal ini sangat  tidak efisien karena pengeraman tidak membutuhkan  kolam atau tempat yang besar.

Kolam semen dapat dibuat dalam berbagai ukuran atau  sesuai dengan tersedianya lahan. Namun, ukuran kolam yang sangat ideal dan sering dipakai adalah ukuran 2m x 2m x 0.5m (P x L x T). Karena sangat  cocok untuk memuat burayak satu  indukan. Alangkah baiknya apabila kolam semen yang akan dibuat ini  ditata sedemikian rupa sehingga lahan tersebut pemanfaatannya bisa optimal dan mempermudahkan kita  dalam melakukan pengurasan kolam. Jika ditata dengan  baik, pengurasan kolam tersebut aimya tidak terbuang dan  dapat dipakai kembali.

Agar dapat memaksimalkan lahan yang ada, kolam semen ini dapat juga dibuat dalam bentuk bertingkat. Namun, dalam pembuatan kolam bertingkat ini juga akan menghabiskan biaya yg jauh lebih besar karena memerlukan rangka besi seperti layaknya membuat rumah bertingkat. Kolam bertingkat y4ng pd umumnya dibuat adalah dengan me-nambahkan satu kolam lagi di atas dua kolam semen yang berdekatan dengan mengambil setengah kolam di bawahnya. Dan pada ukuran kolam tersebut sama besar atau bisa dibuatkan agar lebih kecil. Sebaiknya, kolam pada tingkat kedua juga bisa dibuat pada ketinggian satu meter untuk  mempermudah dalam pemberian makan dan pemantauan.

Kolam semen yang barn sebaiknya direndam terlebih dahulu untuk menghilangkan zat-zat yang ada pada semen yang berbahaya bagi lobster. dipindahkan Kolam semen tersebut dapat direndam dengan mengunakan pelepah pisang yang dibelah menjadi beberapa bagian. Perendaman ini dilakukan selama satu minggu. Untuk pembuangan dengan menggunakan pipa pembuangan pada kolam semen ini, sebaiknya dibuat berbanding dengan luas kolam yang ada. Pembuangan air pada kolam diusahakan yang berukuran besar karena pembuangan ini harus memakan waktu yang singkat. Karena pada umumnya panen dilakukan pada pagi hari, waktu y4ng singkat membuat lobster yang berganti kulit pada saat pengiriman dpt dihindari. Karena hari yang semakin siang, lobster yang berganti kulit semakin banyak, Hal ini disebabkan oleh sifat lobster yang umumnya melakukan pengantian kulit pada pagi hari menjelang siang dan pada hari yang semakin siang suhu udara akan semakin panas. Perlu diingatbahwa lobster tidak tahan terhadap panas.

 

7. Kolam Terpal

Selain menggunakan kolam tanah atau kolam semen, kita juga dapat memanfaatkan lahan yang kita punya dengan menggunakan kolam dari terpal atau plastik yang tebal. Selain memudahkan dalam pemeliharaan, mudah memantau keadaan lobster yang kita budidayakan, juga bisa menghemat ruang, yaitu dengan penyimpanan secara ^ bersusun. Namun, kolam terpal atau plastik ini memiliki kelemahan, yaitu rawan terhadap bocor atau tidak tahan lama seperti pada kolam tanah atau kolam semen.

8. Talang hujan

Talang hujan jini sudah mulai banyak digunakan pada budi daya lobster air tawar ini, baik untuk pembesaran burayak ataupun pembesaran. Dan Pada umumnya, talang hujan ini digunakan untuk memperdayakan lahan sempit karena talang ini dapat disusun secara bertingkat.

Dalam budi daya pembesaran lobster air tawar hingga ukuran konsumsi ini, talang dibuat sekat-sekat dengan ukuran panjang masing-masing 15 cm sampai dengan 204cm. Penyekatan ini biasanya menggunakan kawat ram dan atasnya ditutup dengan kawat sehingga lobster tidak kabur k4rena talang ini tidak terlalu tinggi.

Biasanya talang hujan ini disusun bertingkat dan dihubungkan beberapa talang pada tiap tingkatnya. Pada setiap tingkat yang sama, dibuat hubungan dengan menggunakan pipa pralon satu dengan yang lainnya. Penghubung ini dibuat bolak-balik sehingga terdpta aliran air- yang jika air yang dipompa dari penampungan ini hanya ke salah satu talang yang paling tinggi, akan terns mengalir dari talang ke talang. Pada talang paling terakhir, setiap tingkat dibuat lubang pembuangan ke talang di tingkat bawahnya dan terns sampai tingkat paling rendah.

Air ini dimasukan ke dalam penampung di bawah yang sudah diisi media filter.

Media ini disebut sistem EDU (Extreme Density Unit) talang karena sudah memperhittmgkan media wadah dalam3dimensiataukubikasi. Dengan sistem EDU talang, kita dapat membudidayakan lobster ini dalam kepadatan yang tinggi dan kanibalisme juga dapat dikurangi sebab setiap ruangan hanya diisi dengan satu ekor lobster. Untuk pembesaran burayak, talang ini tidak perlu disekat seperti I pembesaran untuk ukuran konsumsi, tetapi tutup atas masih tetap diperlukan untuk langkah pencegahan agar lobster tidak kabur.

9. Botol

Selaindari talang, botolplastik yang bisanya digunakari  untuk kemasan air mineral, dapat pula digunakan.. Botol Iyang digunakan biasanya menggunakan botol berukuran  kapasitas 600 ml air mineral atau lebih. Botol-botol ini dibuat I lubang-lubang kedl pada seperempat bagian botol tersebut I agar air bisa masuk ke dalam botol dan dibuat satu saluran I untuk menyalurkan makanan ke botol ini dengan ukuran  yang lebih besar agar makanan tidak menyakut.

EDU botol ini biasanya digunakan untuk pembesaran  lobster hingga ukuran konsumsi. Kelemahan dalam EDU  botol ini adalah pemberian pakan yang sulit serta tingkat  pertumbuhannya agak lambat karena gerakan dari lobster tidak sebebas apabila menggunakan akuarium atau kolam tanah. Di samping itu, menggunakan EDU botol juga memiliki kelebihan yaitu jumlah pertemuan atau interaksi antarlobster tidak terjadi. Hal ini akan mengurangi atau bahkan tidak akan terjadinya saling memangsa atau sifat kanibalisme dari lobster karena setiap botol hanya dihuni oleh satu ekor lobster.

TIPS BUDIDAYA

  1. Gunakan indukan berukuran fisik besar (dapat menghasilkan +/-500 s/d +/-900 per ekor 1 kali bertelur) sebagai produksi bibit dan untuk mempercepat pertumbuhan bibit ukuran 2cm.
  2. Beri makanan ekstra berupa cacing sutra dan cacing tanah untuk mempercepat proses bertelur agar dapat dikawinkan.
  3. Kemudian, perlu Anda ketahui juga pada proses pergantian kulit berarti proses p4da pertumbuhan, (bertambah besar), terutama pada proses pembesaran di akuarium. Oleh karena itu, guna untuk merangs4ng pergantian kulit, sesering mungkin Anda melakukan pergantian air pada akuarium (tiap 3 hari atauseminggu 1 kali) bergantung pada tingkat kekeruhan airnya.

 

Demikian artikel tentang Jenis Media Pembudidayaan Lobster Air Tawar.Semoga bermanfaat

Jenis Media Pembudidayaan Lobster Air Tawar | seputarikan | 4.5