Panen,Pasca Panen,Dan Analisis Usaha Budidaya Lele

Teknis panen dan pascapanen pada sistem budi daya lele probiotik organik tidak memiliki perbedaan dengan panen dan pascapanen budi daya lele secara konvensional atau pun sistem budi daya lainnya. Teknis panen disesuaikan dengan jenis kolam yang digunakan oleh pembudidaya.

A. Panen dan Pascapanen

Panen sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Tujuannya agar terhindar dari cahaya matahari yang berlebihan yang dapat menyebabkan lele menjadi stres. Panen lele umumnya dilakukan dengan mengeluarkan air dari kolam, baik kolam terpal maupun kolam tembok hingga tersisa sedikit. Cara mengeluarkan airnya dapat dilakukan dengan penyedotan menggunakan mesin penyedot air (diesel) atau membuka saluran pembuangan kolam.

Setelah air kolam dibuang, lele akan berkumpul di bagian tengah kolam. Bagian ini umumnya memiliki area yang lebih dalam dibandingkan dengan permukaan dasar kolam yang lainnya. Selanjutnya, lele diambil menggunakan alat tangkap atau jaring, lalu disortir dan dimasukkan ke dalam wadah untuk dijual.

Panen Lele. Umumnya dilakukan pada pagi atau sore hari saat cahaya matahari tidak terlalu kuat

Setelah panen, kondisi kolam perlu dicek kembali untuk melihat bagian kolam yang rusak, bocor, rembes, robek atau berlubang (khususnya untuk kolam terpal). Setelah itu, lakukan persiapan media kembali untuk memulai persiapan budi daya.

B. Analisis Usaha Budi Daya Lele Sistem Probiotik Organik

a. Asumsi

  1. Jumlah bibit lele (bisa menggunakan jenis lele sangkuriang atau dumbo) yang ditebar sebanyak 12.000 ekor.
  2. Ukuran bibit lele yang ditebar 5—7 cm.
  3. Jenis kolam budi daya menggunakan kolam terpal.
  4. Kolam kultur nutrisi sebanyak dua buah. Ukuran kolam 2×2 x 1,5 meter.
  5. Kolam pengayaan nutrisi sebanyak satu buah. Ukuran kolarr lx 6×1,5 meter.
  6. Kolam budi daya sebanyak empat buah. Ukuran kolam 3×5 meter.
  7. Kolam budi daya azolla empat buah. Ukuran kolam 5 x 7 x 0,4 meter.
  8. Masa pemeliharaan (satu periode) selama sekitar dua bulan.
  9. Masa pakai kolam kultur nutrisi selama dual tahun (121 periode).
  10. Masa pakai kolam pengayaan nutrisi selama dua tahun (12 periode).
  11. Masa pakai kolam budi daya selama dua tahun (12 periode).
  12. Masa pakai kolam azolla selama dua tahun (12 periode).
  13. Masa pakai aerator selama tiga tahun (18 periode).
  14. Masa pakai mesin air selama lima tahun (30 periode).
  15. Masa pakai perlengkapan Iain-lain (wadah pembuat pakan (container), paralon, ember, seiarig, dan serokan) selama tiga tahun (18 periode).
  16. Water stabilizer dapat digunakan selama 2 tahun (12 periode)
  17. Media di kolam kultur nutrisi dapat digunakan selama 2 tahun (12 periode)
  18. Media di kolam pengayaan nutrisi dapat digunakan selama 2 tahun (12 periode)
  19. Mortalitas2—3%.
  20. Ukuran panen 9—10ekor/kg.
  21. Budi daya dijalankan sendiri oleh pemilik, tanpa dibantu pegawai.

b. Analisis Usaha

Modal dan keuntungan memulai budidaya lele

1. Biaya Investasi

Bahan dan biaya pembuatan
kolam kultur nutrisi

Rp.1.100.000

Bahan dan biaya pembuatan
kolam pengayaan nutrisi

Rp.1.130.000

Bahan dan biaya pembuatan
kolam budi daya

Rp.2.120.000

Bahan dan biaya pembuatan
kolam azolla

Rp .2.000.000

Aerator

Rp.200.000

Mesin air

Rp.500.000

Perlengkapan
Iain-lain (wadah pembuat pakan, paralon, ember, dan slang)

Rp.700.000

Pembuatan
media di kolam kultur nutrisi

Rp.560.000

Pembuatan
media di kolam pengayaan nutrisi

Rp.1.200.000

Pembuatan
water stabilizer

Rp. 500.000

Total Investasi

Rp. 10.010.000

2. Biaya Operasional per Periode Pemeliharaan

Biaya Tetap

Penyusutan kolam kultur nutrisi (1/12
xRp1.100.000)

Rp.91.600

Penyusutan kolam pengayaan nutrisi
(1/12 xRp1.130.000)

Rp. 94.166

Penyusutan kolam budi daya (1/12 x
Rp2.120.000)

Rp.176.600

Penyusutan kolam azolla (1/12
xRp2.000.000)

Rp.166.600

Penyusutan aerator (1/18 xRp200.000)

Rp.11.100

Penyusutan mesin air (1/30 xRp500.000)

Rp.16.600

Penyusutan perlengkapan Iain-lain (1/18
xRp700.000)

Rp.38.800

Penyusutan media di kolam kultur
nutrisi (1/12 xRp560.000)

Rp.46.600

Penyusutan media di kolam pengayaan
nutrisi (1/12 xRp1.200.000)

Rp.100.000

Penyusutan water stabilizer (1/12
xRp500.000)

Rp.41.600

Total Biaya Tetap 

Rp. 783.666

Biaya Variabel

Pembelian bibit lele Rp150/ekorx 12.000 ekor

Rp.1.800.000

Pembelian bibit Azolla

Rp.30.000

Pembelian sayuran, buah-buahan dan bahan apkir
lain untuk kolam nutrisi

Rp.200.000

Pembuatan
media di kolam budi daya

Rp.40.000

Pembuatan
media di kolam azolla

Rp.400.000

Starter probiotik
organik miracle green
(10 liter x Rp70.000/liter)

Rp.700.000

pembuatan pakan probiotik organik
(bahan dan ongkos kerja)

Rp.2.400.000

Total Biaya
Variabel

Rp.5.570.000

Total Biaya Operasioanal

 

biaya operasional =

Biaya tetap + biaya variabel

Rp783.666 + Rp5.570.000

Total

Rp6.353.666

3.Penerimaan Per Periode

 

Penjualan hasil panen =

Total panen x
harga jual panen

1.164 kg x Rp
11.000/kg

Total

Rp.12.804.000

4.Keuntungan

 

Keuntungan Per Periode =

Total penerimaan – total biaya
operasional

Rp.12.804.000 – Rp.6.353.666

Total

Rp.6.450.334

 

C. Analisis Usaha Budi Daya Lele Sistem Konvensional

а.    Asumsi

  1. Jumlah bibit lele yang ditebar sebanyak 12.000 ekor. Jenis lele sangkuriang.
  2. Ukuran bibit lele yang ditebar 5—7 cm.
  3. Jenis kolam budi daya menggunakan kolam terpal berukuran 5 x 8 x 1,5 m. Jumlah kolam yang digunakan sebanyak dua buah.
  4. Masa pemeliharaan (satu periode) selama dua bulan.
  5. Mortalitas 10—20%.
  6. Ukuran panen 7—10 ekor/kg.
  7. Masa pakai kolam terpal selama 3 tahun (18 periode).
  8. Masa pakai perlengkapan Iain-lain selama 2 tahun (12 periode).
  9. Budi daya dijalankan sendiri oleh pemilik, tanpa dibantu pegawai.

b. Analisis Usaha

1. Biaya investasi

 

Pembuatan dua buah kolam
terpal masing-masing untuk 6.000 ekor bibit (termasuk bambu dan tenaga)

Rp.2.200.000

Perlengkapan Iain-lain

Rp.300.000

Total investasi     

Rp.2.500.000

 

2. Biaya Operasional per Periode Pemeliharaan

Biaya Tetap

 

Penyusutan kolam
1/18 x Rp2.200.000

 

Rp. 122.200

Penyusutan perlengkapan
Iain-lain 1/12 x Rp300.000

 

Rp. 25.000

Total Biaya Tetap

Rp.147.200

 

Biaya variabel

 

Pembelian bibit leie Rpl 50/ekor x 12.000 ekor

 

Rp.1.800.000

Pakan pelet LI 36 kg x Rp7.500/kg

Rp.270.0oo

 

Pakan pelet PL2 72 kg x Rp6.500/kg

Rp.468.000

 

Pakan pelet PL3 360 kg x Rp6.500/kg

Rp.2.340.000

Pakan pelet tenggelam
SNL 984 kg x Rp5.400/kg

 

Rp.3.313.600

 

Total Biaya Variabel

RP 10.19l.600

 

 

 Total Biaya Operasional

 

Total biaya operasional

Biaya tetap + biaya variabel

 

Rp147.200 + Rp10.191.600

Total

Rp10.338.800

 

3.    Penerimaan per Periode

 

Penjualan hasil panen
=

 

Total panen x harga
jual panen

 

= 1.080 kg x Rpl 1.000/kg

Total

= Rp 1.880.000

 

4.    Keuntungan

 

Keuntungan per periode. =

 

Total penerimaan – total biaya operasional

 

Rp11.880.000 – Rp10.338.800

Total

= Rp1.541.200

 

 Keuntungan per bulan = Rp 1.541.200:2 bulan = Rp770.600

Kesimpulan

Berdasarkan perbandingan antara analisis usaha budi daya lele sistem probiotik organik dan sistem konvensional dengan jumlah bibit dan jenis koiam yang sama dapat dilihat bahwa budi daya lele listem probiotik organik memHiki berbagai keunggulan.

—    Meningkatkan produksi (hasil panen) sebesar 7—8%. Diperoleh dari perbandingan hasil panen sistem budi daya jp probiotik (1.164 kg) dengan hasil panen ststem budi daya * konvensional (1.080 kg).

— Meningkatkan produktivitas sebesar 43%. Diperoleh dari perbandingan produktivitas pada sistem budi daya probiotik (20 kg/m2) dengan produktivitas pada sistem budi daya konvensional (14 kg/m2).

—    Menghemat biaya pakan sekitar 55%—hasil membandingkan R biaya pakan pada budi daya konvensional (Rp8.391.600) dengan ® biaya pakan pada budi daya probiotik (Rp3.770.OO0).

— Meningkatkan keuntungan per periode hingga 4,2 kali lipat.

Panen,Pasca Panen,Dan Analisis Usaha Budidaya Lele | seputarikan | 4.5