IKAN BAUNG

MENGENAL IKAN BAUNG

MENGENAL SEMUA TENTANG IKAN BAUNG
MENGENAL SEMUA TENTANG IKAN BAUNG

A. Morfologi

Ikan baung mempunyai bentuk tubuh panjang, Iicin, dan tidak bersisik, kepalanya kasar dan depresdengan tiga pasang sungut di sekeliling mulut

dan sepasang di Iubang pernafasan; sedangkan panjang sungut rahang atas hampir mencapai sirip dubur. Pada sirip dada dan sirip punggung, masing- masing terdapat duri patil.

Ikan baung mempunyai sirip lemak (adipose fin) di belakang sirip punggung yang kira—kira sama dengan sirip dubur. Sirip ekor berpinggiran tegak dan ujung ekor bagian atas memanjang menyerupai bentuk sungut. Bagian atas kepala dan badan bewvama coklat kehitam-hitaman sampai pertengahan sisi badan dan memutih ke arah bagian bawah.

B. Tingkat Kematangan Gonad

Ikan baung jantan dan betina memiliki perkzimbangan gonad mulai ketika beratnya mencapai 90 g atau panjang badan total Iebih dari 200 mm. Matang gonad ikan baung betina diperkirakan pada berat Iebih dari 100 g. Pada umur berapa ikan baung mencapai ukuran tersebut belum dapat dipastikan.

Berdasarkan Iaporan Madsuly (1977) yang memelihara ikan baung di kolam, ukuran 90 g dapat dicapai selama 4 – 6 bulan. Perbandingan antara gonad yang belum matang (TKG l) dan gonad yang matang (TKG IV)

C. Fekunditas (Jumlah Telur)

Fekunditas ikan baung berada pada rentangan 1.365 – 160.235 butir. Seperti yang dikatakan oleh Snyder (1983) bahwa fekunditas dipengaruhi oleh ukuran ikan (panjang dan berat) dan umur. Ikan yang berukuran besar cenderung memiliki fekunditas Iebih besar daripada ikan yang berukuran kecil.

Fekunditas yang terbesar adalah 160.235 butir yang terdapat pada ikan baung yang memiliki berat tubuh 2.752 g dan berat gonad 224 g. Fekunditas juga dapat dipengaruhi oleh fekunditas telur (Woynarovich and Horvarth, 1980). Pada umu_mnya, ikan yang berdiameter telur 0,8 – 1,1 mempunyai fekunditas 100.000-300.000 butir/kg berat ikan.

lkan baung mempunyai fekunditas lebih kecil daripada jumlah tersebut, yakni sekitar 60.000 butir/kg berat tubuh. Jika dibandingkan dengan fekunditas ikan channel catfish, fekunditas ikan baung jauh Iebih besar. Fekunditas ikan catfish (baung putih asli Amerika) adalah sekitar 7.000 butir/kg berat tubuh (Busch, 1985).

D. Jenis Kelamin

Jenis kelamin ikan baung dapat diketahui dengan dua cara, yaitu dengan membelah perut dan memeriksa gonadnya dan dengan mengamati ciri-ciri morfologis.

Gonad ikan baung betina dan ikan baung jantan terletak di rongga perut bagian dorsal intestin. Gonad ikan baung dapat diperiksa setelah ikan baung tersebut berukuran 90 g atau kira—kira panjangnya 20 cm. Oleh karena itu, ikan baung yang Iebih kecil dari ukuran tersebut dapat dibedakan dengan mengamati lobang genital (genital pore).

Pada ikan baung jantan, Iobang genital agak memanjang dan terdapat bagian yang meruncing ke arah caudal. Alat ini merupakan alat bantu untuk mentransfer sperma. Sedangkan pada ikan betina, Iobang genitalnya berbentuk bulat.

Lubang genital ini akan berwama kemerah-merahanjika ikan baung betina tersebut telah mengandung telur pada TKG V. Kromosom berjumlah 23 pasang yang terdiri atas 2 pasang kromosom metasentrik, 6 pasang kromosom akrosentrik, dan 15 pasang kromosom telosentrik.

E. Pakan dan Kebiasaan Makan

lkan pada umumnya mempunyai kemampuan beradaptasi tinggi terhadap makanan dan pemanfaatan makanan yang tersedia di suatu perairan. Dengan mengetahui kebiasaan makan ikan, maka kita dapat mengetahui hubungan ekologi organisme dalam suatu perairan, misalnya bentuk-bentuk pemangsaan persaingan makanan dan rantai makanan.

Beberapa penelitian menunjukan bahwa ikan baung termasukjenis ikan karnivora dengan susunan makanan yang terdiri atas ikan, insekta, udang, annelida, nematoda, detritus, sisa-sisa tumbuhan,‘ata,u organik lainnya. Susunan makanan ikan baung dewasa berbeda dengan susunan makanan ikan baung anakan.

Makanan utama ikan baung dewasa terdiri atas~ikan dan insekta, sedangkan makanan utama anakan ikan baung hanya berupa insekta. Tetapi, Djajadiredja et al. (1977) mengemukakan bahwa ikan baung termasuk jenis ikan omnivora dengan makanan terdiri atas anak ikan, udang, remis, insekta, moluska, dan rumput.

Makanan utama ikan baung yang hidup di Waduk Juanda terdiri atas udang dan makanan pelengkapnya berupa ikan dan serangga air, sehingga digolongkan dalam jenis ikan kamivora. Berdasarkan hasil penelitian Alawi et al. (1990), terdapat 4 kategori organisme yang ditemui dalam Iambung ikan baung, yaitu insekta air, ikan, udang, dan detritus. Detritus ditemukan 41,4 %, insekta 36,4 %, ikan 31,3 %, dan udang terdapat 5,1 % dari jumlah sampel ikan baung.

Dari komposisi organisme yang dijumpai dalam isi Iambung ikan baung ternyata bahwa ikan ini tergolong jenis ikan pemakan segala (omnivora) dengan kecenderungan pada jenis insekta air dan ikan atau mengarah ke pemakan daging (karnivora), Ha! ini dapat dilihat dari besamya mulut yang merupakan ciri dari sub-ordo Siluroidea. Jenis ikan dari sub-ordo Siluroidea pada umumnya

adalah ikan yang bersifat pemangsa (karnivora), seperti dari famili Pangasidae (ikan patin), Siluridae (ikan seiais), dan Clariidae. (ikan Iele) (Bardach et aL, 1972).

IKAN BAUNG | seputarikan | 4.5